Sekilas, gundukan tanah setinggi 4 meter dari permukaan tanah atau 12 meter ketinggian dari permukaan laut, lebar gundukan 18X24 meter, itu seperti gundukan biasa, tidak ada keistimewaannya. Namun, semakin didekati, barulah kelihatan bahwa gundukan itu bukanlah tanah, melainkan susunan kulit kerang yang menumpuk menjadi bukit.
Gundukan itu diberi nama Bukit Kerang Kawal Darat, karena lokasinya di daratan Kampung Kawal, Kecamatan Gunungkijang, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau.
Kepala Dinas Pariwisata Bintan Luki Zaiman Prawira mengatakan, situs bukit kerang ini sudah diteliti oleh Balai Arkeologi Medan sejak tahun 2009, dipimpin langsung oleh Kepala Balai Arkeologi Medan Lucas Partanda Koestoro. Ia ditemani oleh Ketut Wiradnyana yang dikenal ahli mendalami masalah situs bukit kerang di Indonesia. Balai Arkeologi Medan merekomendasikan agar Bukit Kerang Kawal Darat dimanfaatkan sebagai bagian dari objek ekowisata mangrove.
"Akan dikembangkan sebagai salah satu daya tarik objek wisata lingkungan mangrove tour," kata Luki di Gunung Kijang, Selasa (21/11/2017).
Ia menjelaskan, ketinggian Bukit Kerang Kawal Darat 4 meter, terdiri dari beberapa lapisan. Paling atas lapisan kulit kerang bercampur humus. Lalu lapisan kerang, disusul lapisan kerang bercampur lumpur. Dan, paling bawah lapisan kerang.
Bisa jadi pada masa lalu, tinggi tumpukan kerang itu di atas 4 meter. Namun, seiring berjalannya waktu, tinggi tumpukan kerang semakin berkurang. Apalagi di bagian tengah tumpukan kerang itu kini sudah ada lubang.
"Berdasarkan pemeriksaan laboratorium dengan metode carbon dating dinyatakan bahwa Bukit Kerang Kawal Darat merupakan sisa aktivitas manusia masa lalu (prasejarah) di daerah pesisir. Aktivitasnya paling tidak telah berlangsung sekitar 300 tahun sebelum masehi," katanya.
Dari hasil penelitian tersebut, masyarakatnya waktu itu mengonsumsi moluska (hewan berbadan lunak, sering bercangkang keras, seperti siput) sebagai bahan makanan dan menggunakan peralatan berbahan batu, tanah liat, cangkang kerang dan tulang, jenis moluska. Cara hidup dan model peralatan tersebut memiliki persamaan teknologi dengan sebaran situs bukit kerang di Sumatera Utara dan Aceh.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Bukit Kerang di Kampung Kawal Darat adalah sebuah situs masa prasejarah yang layak digolongkan sebagai benda cagar budaya. Melalui periodisasi berdasarkan data artefaktual yang ditemukan hingga saat ini, situs ini masuk dalam periode akhir neolitikum awal.
Alat yang ditemukan adalah alat dari cungkil bahan tulang (spatula), alat dari cangkang kerang, ekofak moluska (strombidae), ekofak moluska (arcidae), dan batu pukul.
Kepala Balai Arkeologi Medan Lucas Partanda Koestoro mengatakan, terkait dengan persoalan penemuan bukit kerang itu, sebenarnya di Kawal Darat bukanlah yang pertama. Peninggalan manusia prasejarah berbentuk bukit kerang ditemukan pertama kali di sekitar Pantai Timur Sumatera tahun 1925 oleh peneliti Dr PV Van Stein Callenfels. Di tempat itu dia juga menemukan kapak genggam, yang disebut dengan pebble atau kapak sumatera (Sumatralith).
Selain di Bintan, masih ada empat tempat lainnya ditemukan situs prasejarah seperti ini. Selain di kawasan pesisir Sumatera, seperti Aceh dan Sumatera Utara, di Sulawesi juga pernah ditemukan situs serupa.
Karena itu, perlu ada penjagaan terhadap lokasi sekitar situs. Sebab, bercermin pada Deli Serdang, lokasi situs saat ini sudah hilang. Di Deli Serdang, situs tersebut ditemukan tahun 1970. Namun, untuk situs bukit kerang yang di Aceh dan di Sumatera Utara, diperkirakan usianya lebih tua, yakni sekitar 7.000 tahun sebelum masehi.
Pengen baca lanjutan nya buka link di samping : http://ift.tt/2B6NENJ
Bagikan Berita Ini
0 Response to "Jejak Manusia Purba di Bukit Kerang Kawal Darat"
Post a Comment