Aksi teatrikal ini mengundang perhatian masyarakat yang melintas di depan kantor bupati di Jalan Ahmad Yani. Peserta aksi menebar mainan anak-anak dan juga peralatan sekolah yang biasa digunakan oleh anak-anak saat sekolah.
Sebagian lagi mewarnai sekujur tubuh dengan warna hitam sebagai simbol duka. Ada juga peserta yang memegang spanduk dengan payung hitam.
Kordinator aksi, Darma, mengatakan, aksi ini dilakukan dengan mengusung tema kekerasan terhadap anak bertepatan dengan Hari Anak Internasional. Kasus kekerasan terhadap anak sudah sangat memprihatinkan.
Setiap tahun ada 40 hingga 50 kasus yang terjadi di Karawang. Bahkan Kabupaten Karawang menjadi daerah dengan kasus kekerasan terhadap anak tertinggi di Jawa Barat.
"Data yang kita miliki valid kita memang tertinggi dalam kasus kekerasan terhadap anak dan saya kira pemerintah daerah mengetahui hal tersebnt," katanya.
Kondisi ini dinilai berbanding terbalik dengan kebijakan pemerintah yang terkesan tidak peduli dengan kondisi anak yang rawan menjadi korban kekerasan.
Misalnya kebijakan pemerintah membuat Kota Layak Anak di lapangan Karangpawitan misalnya tidak berjalan. Lapangan Karangpawitan lebih banyak digunakan oleh para pedagang kaki lima atau aktivitas orang dewasa.
Bupati Cellica seharusnya terpanggil ketika mengetahui seorang pelatih sepak bola mencabuli 28 anak didiknya di Desa Curug, Kecamatan Klari beberapa waktu lalu. Kemudian terjadi di Rengasdengklok ketika anak usia 15 sudah dijadikan alat pembantu untuk mengemis. Peristiwa tersebut seharusnya bisa menjadi pelajaran bagi pemerintah untuk peduli dengan nasib anak.
(rhs)
Pengen baca lanjutan nya buka link di samping : http://ift.tt/2A1Mw0m
Bagikan Berita Ini
0 Response to "Pemerintah Tutup Mata Soal Nasib Anak di Karawang"
Post a Comment